Thursday, March 8, 2012

Filsafat Ipa


Anatomi IPA dan Metode Ilmiah 


I. Anatomi IPA
     Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) setidaknya terbangun atas 4 unsur yang meliputi hukum, teori,  prinsip, pustulat atau azas yang secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut:

A. Hukum
     Hukum dalam IPA merupakan suatu pernyataan yang mengungkapkan adanya hubungan antara gejala alam yang konsisten. Karena konsistennya itulah maka hukum dapat digunakan untuk meramalkan. Adapun yang perlu diingat untuk memahami hukum ini adalah:
  1. Suatu pernyataan,
  2. Menyatakan adanya hubungan antara fakta,
  3. Telah diuji kebenarannya oleh ahli di bidang itu,
  4. Bersifat universal,
  5. Dapat digunakan untuk meramalkan,
  6. Berlaku pada kondisi yang terbatas,dan
  7. Peramalan hanya cocok bila kondisi tertentu yang terbatas itu terpenuhi.
B. Teori
     Menurut Kerlinger (1973) yang terjemahannya sebagai berikut. “Suatu teori adalah seperangkat pengertian (konsepsi) definisi dan proposisi yang saling berkaitan yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis dari berbagai fenomena dengan mengungkapkan adanya hubungan yang spesifik antar variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena-fenomena tersebut.”
Teori memiliki tiga fungsi, yaitu:
  1. Menjelaskan, yang dijelaskan bisa saja berupa suatu hukum, bisa juga suatu gejala alam yang sederhana, dan dapat pula hubungan antar berbagai gejala alam.
  2. Memahamkan, fakta-fakta dari gejala alam yang berserakan di atas bumi dan alam semesta ini bila dirapihkan atau dibuat menjadi teratur dan sistematis maka akan mudah dipahami adanya saling keterkaitan secara teratur satu terhadap yang lain mengikuti ‘hukum alam’.
  3. Meramalkan, dari keteraturan ataupun sistematisasi fakta-fakta atau fenomena alami tadi dapat pula ditarik suatu kesimpulan atau ramalan.
 C. Postulat
     Secara singkat, potulat dapat diartikan sebagai suatu anggapan dasar yang kebenarannya tidak dipertanyakan lagi atau dianggap benar.

D. Prinsip atau Azas
     Prinsip atau azas dalam Ilmu Pengetahuan Alam dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang mengandung kebenaran yang bersifat mendasar dan berlaku umum. Prinsip atau azas inilah yang sebenarnya melandasi kebenaran suatu hukum.
 
II. Metode Ilmiah
     Dalam IPA, pengetahuan itu dianggap benar bila sesuai dengan objeknya. Atas hal itu, ada suatu paham atau aliran yang disebut ‘fenomenalisme’. Bertolak dari fenomenalisme, IPA hanya terdiri dari suatu identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi dari berbagai fenomena alam yang kita amati. Fenomena dapat diartikan sebagai hubungan serta sifat-sifat dari benda. Pelopor dari paham ini adalah Patricius. Pahamnya ini didorong oleh ketidakpuasaan terhadap teori-teori yang diciptakan para astronom yang penuh dengan kira-kira ataupun dugaan-dugaan. Pelopor lain dari fenomenalisme adalah Barkeley yang melandasi pendapatnya atas tiga prinsip yaitu:
  1. Tidak ada bedanya antara fakta yang didapat dari hasil pengamatan dengan apa yang kita pahami tentang fakta itu,
  2. Hubungan antar gejala alam itu adalah sangat teratur karena diatur oleh Tuhan, bila tidak teratur itu adalah kesalahan pengamatan kita,
  3. IPA harus tetap dikaitkan dengan identifikasi dari hasil pemikiran manusia.
     Ada paham lain yang disebut Realisme. Paham ini mendambakan akan realita dari teori-teori maupun terminologi dari IPA. Paham realisme mempunyai kaidah secara skematis sebagai berikut:
  1. Istilah-istilah teoretis dapat mengacu kepada suatu realita hipotetis,
  2. Realita hipotetis itu adalah yang diharapkan menjadi realita,
  3. Realita yang diharapkan tersebut adalah ‘demonstrable’ artinya dapat ditunjukkan kenyataannya secara gestural.
Menurut Isaac dan Michael (1980), ada sepuluh langkah dasar yang harus ditempuh yaitu:
  1. Mengidentifikasikan lingkup masalahnya,
  2. Mengadakan survey kepustakaan yang berkenaan dengan permasalahannya,
  3. Merumuskan permasalahannya yang sebenarnya dalam bentuk yang jelas, dengan menggunakan istilah yang khusus,
  4. Merumuskan hipotesis yang dapat diuji dan mendefinisikan konsepsi-konsepsi dan dasar variabelnya,
  5. Menyatakan asumsi-asumsi sebagai landasan dasar yang memberikan petunjuk penafsiran kesimpulan yang akan didapat,
  6. Menyusun desain penelitian untuk mencapai validitas internal maupun external yang maksimal,
  7. Menetapkan cara pengumpulan data,
  8. Pemilihan cara analisis data,
  9. Pelaksanaan program penelitian,
  10. Penilaian hasil dan penarikan kesimpulan.

0 komentar:

Post a Comment