Monday, January 2, 2012

Filsafat IPA



Kuhn dan Tesis Quine Duhem

Tesis Quine-Duhem adalah salah satu pernyataan yang mendukung ketidakpastian dalam ilmu pengetahuan. Sebenarnya tesis ini tidak diciptakan oleh dua orang secara bersamaan dalam satu waktu. Namun pertamakali diusulkan oleh Piere Duheim. Piere Duheim adalah seorang fisikawan prancis dari akhir abad. Kemudian tesis ini juga disetujui oleh filsuf abad keduapuluh WVO Quine. Sebenarnya Duheim membatasi tesis ini di fisika, sedang Quine menerapkannya dalam bidang yang lebih luas  
Tesis ini menunjukkan suatu ketidakpastian dalam ilmu pengetahuan. Idealnya dalam sebuah pengetahuan sebuah hipotesis dalam ilmu pengetahuan bisa dinyatakan salah atau benar dari sebuah percobaan. Sebuah hipotesis misalnya kemudian bisa disalahkan atau bisa dibenarkan dari percobaan itu dan setelah itu sebuah teori bisa ditentukan benar atau salahnya. Dengan demikian kepastian ilmu bisa dijamin.  

Dengan thesis ini(thesis quine duhem) bahwa secara teori secara kesimpulan bisa disalahkan namun tidak bisa memisah sebuah hipotesis dan mengujinya secara terpisah dari teori lainya misalnya kita tidak bisa menyalahkan teori bahwa bumi berputar dengan melihat bahwa burung tidak terlempar dari pohonya saat melepas batang.Ada banyak asumsi lain yang mendukung dalam teori itu, Dengan demikian maka ilmu tidak bisa secara konklusif disalahkan atau dibenarkan ini memberi sebuah ruang keraguan terhadap sains.
 

Thomas Kuhn pertamakali menggunakan paradigma dalam sains, menunjukkan bahwa penelitian ilmiah tidak menuju ke kebenaran. Penelitian ilmiah sangat tergantung pada dogma dan terikat pada teori yang lama. Dalam pemikiran Kuhn paradigma secara tidak langsung mempengaruhi proses ilmiah dalam empat cara dasar.

—Apa yang harus dipelajari dan diteliti
 
—Pertanyaan yang harus ditanyakan  
—Struktur sebenarnya dan sifat dasar dari pertanyaan itu  
—Bagaimana hasil dari riset apapun diinterpretasikan.  
Kuhn mempercayai bahwa ilmu pengetahuan memiliki periode pengumpulan data dalam sebuah paradigma. Revolusi kemudian terjadi setelah sebuah paradigma menjadi dewasa. Paradigma mampu mengatasi anomali. Beberapa anomali masih dapat diatasi dalam sebuah paradigma. Namun demikian ketika banyak anomali anomali yang mengganggu yang mengancam matrik disiplin maka paradigma tidak bisa dipertahankan lagi. Ketika sebuah paradigma tidak bisa dipertahankan maka para ilmuan bisa berpindah ke paradigma baru.
 

Ketika berada pada periode pengumpulan data maka ilmu pengetahuan mengalami apa yang dikatakan perkembangan ilmu biasa. Dalam perkembangan ilmu biasa sebuah ilmu pengetahuan mengalami perkembangan. Ketika Paradigma mengalami pergeseran maka itu disebut masa revolusioner. Ilmu dalam tahap biasa bisa dikatakan sebagai pengumpulan yang semakin banyak dari solusi Puzzle. Sedangkan pada tahap revolusi ilmiah terdapat revisi dari kepercayaan ilmiah atau praktek.





0 komentar:

Post a Comment